Dear diary
Aku adalah seorang gadis yang bekerja sebagai badut pemakai kostum tokoh kartun strawberry di sebuah taman kota. Taman yang selalu dikunjungi oleh anak-anak, orang dewasa hingga opah dan oma pun ada disana.

Aku tak bekerja disana sendiri, ada tujuah orang kawan-kawanku yang mengenakan kostum kurcaci. Begitu menyenangkan bisa mewarnai taman yang mungil namun indah dengan keceriaan. Bermain dengan anak-anak, berfoto hingga berlarian bersama mereka. Betapa menyenangkannya walupun terkadang lelah dan air keringat membasahiku. Namun keriangan mereka menghapus rasa lelahku.
Aku selalu mengamati siapa-siapa saja yang bermain ditaman. Dan ada seseorang yang membuatku kagum, ia adalah seorang pelukis. Kekagumanku padanya ibarat seorang pecinta film korea The Great Queen Seon Deok yang mengagumi tokoh Bidam. Tapi terserah kalian memaknainya.
Ia seorang pelukis berjaket biru yang lucu, terkadang mencari inspirasi melukisnya dengan menyantap secup es krim baru kemudian melukis. Tak jarang aku menghampirinya untuk melihat hasil lukisannya. Satu hal yang aku kagumi darinya, ternyata ia melukis apa yang dilihat, dengar dan rasakan.
Suatu ketika, pelukis itu memintaku untuk menjadi objek lukisannya. Entah dia dapat inspirasi dari mana hingga berniat melukisku. Aku pun bersiap duduk dibangku taman, dan ia pun siap dengan senjata kanvas dan cat warnanya. Saat akan memulai, ternyata ia memintaku untuk membuka kostum wajah strawberry yang kupakai.
Hmmm

Namun aku menolaknya dengan sigap. Aku tak mungkin membukanya dikeramaian karena merupakan kode etik pekerjaan. Aku hanya membukanya diruang kostum. Pelukis itu tetap memaksa, namun aku pun tetap tak bergeming untuk mepertahankan topeng strawberry. Ketujuh kawan-kawanku pun bergegas membantuku.
Setelah melalui negosiasi yang alot dengan ketujuh kawan-kawanku, akhirnya ia mau melukisku dengan menggunakan kostum. Aku pun duduk manis.
Setelah melihat hasil lukisannya aku semakin mengaguminya***

Suatu hari, aku harus bertugas hingga malam.
Karena hari itu ada festival kembang api ditaman. Aku selalu berkeliling taman, dan hari itu aku melihat pelukis itu berada di diballik pohon yang rindang menyendiri. Memang dia terkadang aneh, ditengah keramaian tapi lebih memilih untuk menyendiri.
“Pasti sedang mencari inspirasi” begitu hatiku berkata.
Aku pun menghampirinya, ternyata ia sedang tertidur. Tak sengaja aku melihat hasil lukisannya yang tercecer.
Tak aku sangka dan duga, ternyata ia melukis sosok seorang wanita dan itu adalah wajahku. Hasil lukisannya mirip sekali dengan wajahku. Ia berhasil mendeskripsikannya dengan baik walaupun ia tak pernah melihatku tanpa kostum strawberry.
***
Hari ini setelah bertugas, aku berjanji menemuinya tanpa kostum strawberry. Itu adalah permintaannya sebelum ia pergi keluar negeri untuk melanjutkan studinya. Aku mau memenuhi permintaannya karena pertemuan itu akan menjadi awal sekaligus akhir pertemuanku dengannya.

Pertemuan tanpa kostum strawberry ditemani tujuh kawan kurcaci pun terjadi saat matahari mulai tenggelam. Aku langsung duduk manis dibangku taman. Sebelum ia melukisku...
“Siapa namamu?”begitu tanyanya padaku.
Maka aku mengambil handphone dan ku ketik namaku.”KIRANA” lalu aku sodorkan supaya ia bisa membacanya.
Ia pun balik bertanya “Sejak kita bertemu mengapa kau tak pernah mengatakan satu kata pun padaku, Apakah kau tak bisa berbicara?”
Aku pun tersenyum, dengan bahasa isyarat aku mencoba menjelaskan “Iya, kau benar. Aku tidak bisa berbicara. Apakah setelah mengtahuinya kau masih mau untuk melukisku?”
"Maafkan aku, tapi seperti apapun dirimu. Saat mengenakan kostum strawberry atau tidak aku tetap mengagumimu. Karena kau selalu membagi keceriaan penuh warna di taman ini dengan keihlasan."
Vyka Fadillah yang hanya bisa merasa namun bukan Mencipta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar