Jauh Dari Harapan, Bukan Berarti Berhenti Berharap.
Tiada hari tanpa merangkai kata menjadi kicauan burung yang merdu. Dengan menulis apa yang aku dengar, lihat dan rasakan. Melalui rangkaian itu aku menaruh sebuah harapan.
Kamis, 22 April 2010
Kenapa Menulis Apa Yang Dilihat, Dengar Dan Rasakan???
Dear diary
Menulis sudah menjadi bagian dari hidup, menulis ibarat mengumpulkan huruf-huruf yang berserakkan menjadi sebuah rangkaian kata dan kalimat. Aku mencoba mengambil mutiara didalamnya.
"Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati". (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.(QS 67:23).
Menulis apa yang didengar, lihat dan rasakan.
Kenapa Mendengar?
Saat kita dilahirkan kemuka bumi, panca indera yang pertama berfungsi adalah pendengaran.
Selain itu,beberapa ahli meyakini bahwa pendengaran adalah organ yang terakhir kali masih berfungsi ketika manusia mulai kehilangan kesadaran. Sebagai contoh, ketika seseorang dibius karena hendak ada tindakan operasi, maka mata kita sudah mulai menutup atau tidak berfungsi, maka organ telinga kita masih bisa mendengar.
Atau, ketika kita tidur, yang pertama kali berfungsi adalah indera pendengaran. Untuk itu, sebelum kita melihat, kita sudah bisa mendengar lebih dahulu.
Kenapa Melihat?
Mata adalah penuntun, dan hati adalah pendorong dan penuntut. Mata memiliki kenikmatan pandangan dan hati memiliki kenikmatan pencapaian. Keduanya ibarat sepasang suami istri yang menjalani kehidupan rumahtangganya untuk menggapai sebuah keluarga sakinah mawaddah warahmah.
Pernah dengar kalimat ini? Dari mata turun ke hati, atau lirikkan matamu menarik hati.
Bisa ditarik benang merah jika mata dan hati merupakan sekutu yang mesra dalam setiap tindakan dan amal perbuatan, dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain. Karena mata adalah jendela hati.
Kenapa Merasakan?
Perasaan sama dengan isi hati, bila mulut bisa berdusta namun tak demikian dengan hati. Jika merasakan sesuatu, maka tanyakanlah pada si hati. Karena apa yang tersembunyi dalan hati itulah yang dirasakan.
Karena setiap hari kita mendengar. Dimulai dari mendengar suara adzan, kicauan burung yang merdu, suara angin yang berbisik hingga suara hati.
Karena setiap saat melihat. Melihat segala kebesaran Allah dimuka bumi, melihat wajah-wajah orang yang kita cintai, melihat langit yang kian membiru, hingga melihat dengan mata hati.
Karena kita merasakan. Merasakan dekapan mesra sang Khalik dalam setiap helaan nafas, merasakan cinta dan kasih sayang sekitar kita, mencoba merasakan kesulitan yang dirasakan orang lain.
Mencoba menuangkan apa yang didengar kedalam rangkaian kata, yang terkadang tak terdefinisi dengan baik.
Mencoba menyambungkan nada nada kata yang terdengar melalui gendang telinga.
Mencoba merangkai sumbu huruf-huruf yang melintasi bola mata
Mencoba menyenandungkan nyayian hati yang dirasakan dengan berjuta rangkaian kata.
Semoga Allah senantiasa menuntun pendengaranku untuk mendengar yang sepatutnya didengar dan bisa menjadi pendengar yang baik bagi sekitar.
Semoga Allah senantiasa menuntun penglihatanku untuk melihat kebesaran Tuhanku
Semoga Allah senantiasa mengelola perasaanku untuk merasakan yang memang seharusnya dirasakan.
Vyka fadillah mencoba menulis apa yang didengar, lihat dan rasakan^^
Jumat, 19 Maret 2010
Jadilah tak sanggup untuk tak mencintai
Bismillah
Duniaku yang masih terus berputar pada porosnya hingga detik ini.
Entah mengapa, hari ini aku ingin merangkai kata tentang cinta. Bukan cinta biasa serta bukan juga cinta yang mendayu dayu atau roman picisan. Mari kita buktikan bila cinta tidak identik dengan melankholis, kita ubah cinta menjadi sebuah semangat yang menggebu gebu layaknya genderang drum.
Cinta memang identik dengan merah jambu bukan jambu merah. sekarang waktunya kita pinggirkan dulu atau bahkan kita ubah bahwa cinta itu merah jambu, bunga ataupun cokelat.
Cinta bisa berwarna biru melambangkan langit yang menyejukkan. Cinta bisa berwarna merah melambangkan keberanian dan semangat yang menggebu. Cinta bisa berwarna putih yang berarti sebuah kesucian.
JIka kau masih mempunyai cinta, maka mencintailah tanpa syarat. Karena tidak semua orang bisa mengemban amanah itu dengan keikhlasan.
Jika kau mempunyai segenggam cinta, maka kau tak perlu menangis sedih karenanya.
Tapi menangislah bahagia karena masih bisa mencintai.
Jika kau mengaku seorang pecinta sejati, maka ketahuilah hakikat dari semangkuk cinta.
Mangkuk yang beirisi cinta bukan hanya perkara mencintai atau dicintai.
Tapi bagaiman kita selalu membuat orang yang kita cintai tersenyum bahagia,
dan bagaiman kita bisa menghapus kesedihannya dikala mata bergerimis.
Setangkai cinta bukan hanya perkara memiliki atau dimiliki dan bukan sekedar aku mencintaimu atau kamu mencintaiku. Ada hakikat yang lebih mendalam, sedalam lautan yang membiru. Ada filosofis yang lebih luas, seluas langit yang terus membiru.
Secangkir cinta bukan merupakan sebuah kata sifat melainkan kata kerja yang harus diupayakan dari tunas, berakar, tumbuh kemudian mekar dan bersemi. Karena cinta harus diupayakan. Mencintai dia yang dicintai atau mencintai dia yang mau menerima apa adanya.
Cinta memerlukan pengetahuan dan perjuangan. Jika kau mengaku seorang pecinta sejati maka harus terus belajar dan terus berjuang. Karena cinta adalah keberanian atau pengorbanan. Jika sudah berani mencintai artinya kita harus belajar mempertanggungjawabkan setiap perasaan kita.
Karena saat ini, kita yang masih mempunyai sekotak cinta dihati. Kita Yang masih mampu untuk mencintai tanpa meperdulikan dicintai. Kita yang akan selalu menyebarkan benih-benih cinta dimuka bumi.
Dengan cinta maka kau takkan pernah meminta untuk dinanti, namun mengambil kesempatan atau mempersilahkan.
Mahabatullah
siap taat dalam keadaan rajin maupun malas, baik dalam keadaan suka maupun duka dan dalam keadaan rela maupun terpaksa.
Vyka Fadillah yang mempunyai sekotak cinta^^
Rabu, 17 Maret 2010
Ketika Menulis Tanpa Beban
Duniaku, tetaplah tersenyum dan terus melangkah maju.
Entah mengapa, aku sangat menikmati dengan dunia menulis. Dunia yang begitu mengalihkan duniaku. Dunia yang begitu membuatku merasa nyaman dan terhibur.
Dikala cuaca begitu ceria, maka tintaku akan menari nari indah.
Disaat langit mendung melanda akupun mengajak penaku untuk tetap menari.
Itulah yang bisa aku lakukan, tulis, tulis dan tulis.
Aku hanya ingin menulis tanpa beban, aku hanya ingin menulis apa yang mau aku tulis.
Apakah aku tampak begitu egois?
Aku ingin menulis bebas, menulis apa yang aku dengar, lihat dan rasakan. Jika diantara kalian ada yang tak berkenan dengan hasil goresan penaku yang sepertinya tak berbobot silahkan anda tutup mata dan telinga.
Aku hanya seorang penulis amatir, bahkan masih ditingkat pemula.
Sebebas apapun tulisanku, aku akan berusaha untuk mepertanggung jawabkannya. Menerima siapapun yang memberi apresiasi sekecil apapun hingga kritik pedas membangun.
Aku akan terus menulis....Syukur jika ada yang bersedia meluangkan waktu untuk membaca,
serta akan tetap menulis bila memang tak ada yang bersedia membaca.
Karena aku akan terus menulis tanpa beban.
Vyka fadillah yang senang dengan dunia menulis
18 Maret 2010
Selasa, 16 Maret 2010
Menepi Untuk Sejenak menyendiri^^

Bismillah
Apa kabarnya duniaku?
Semoga senantiasa bersemangat menatap hari esok^^
Ada sebuah kata yang sampai ditelingaku, kemudian aku mulai melihat disekelilingku, lalu tak lama kemudian aku pun merasakan sebuah kata itu.
Kata itu adalah "Kesendirian"
Dikala kita sendiri, tak berarti kita benar-benar sendiri. Dikala kita memilih untuk menyendiri tak seharusnya kita bersedih. Terkadang kita perlu menyendiri, duduk dibangku taman menikmati indahnya khazanah langit yang kian hari semakin membiru.
Dikala kesendirian menyapa, cobalah berdialog dengan Sang Khalik dan coba
dengarlah suara hati kecil yang terkadang meraung raung. Rasakanlah hingga mata bergerimis dan hati menangis.
Dikala tak ada seorang pun sempat menemani dalam kesendirian, ketahuilah bahwa kau tak sendiri. Karena Ada Dia, Yang Maha Mengetahui yang senatiasa ada tanpa diminta sekalipun.
Menepi ke pinggir untuk sejenak merasakan kesendirian. Terkadang lelah berada dalam hinggar bingar keramaian hingga butuh waktu untuk menatap bulan dan bintang sendiri.
Bagi yang belum memahaminya, mungkin akan menganggap menyendiri merupakan sebuah keegoisan yang tak beralasan. Tak selamanya harus ada alasan yang diungkapkan untuk secangkir kesendirian. Biarlah alasan itu diam membisu hingga takkan ada yang bisa mengungkapnya.
Dalam kesendirian yang sunyi, kita meniti jalan untuk Muhasabah dan Mahabatullah
Vyka FadillahYang Sedang Menikmati Kesendirian
Selasa, 09 Maret 2010
Masih Jauh Dari Harapan, Bukan Berarti Berhenti Berharap^^
Bismillah
Selamat pagi duniaku...apa kabarmu pagi ini?
Semoga senantiasa mempunyai niat untuk selalu melakukan kebaikkan di muka bumi. Aamiin.
Akhir-akhir ini kata pendewasaan menyentil telinga.
Sudahkah kamu dewasa? Memang tak secara langsung namun hanya tersurat dan tidak tersirat.
Menjadi tua itu pasti namun menjadi dewasa itu adalah pilihan. Selama jantung ini masih berdetak dan diri ini masih menghirup udara tanpa bayar selama itu pula kita akan dihadapkan pada sebuah pilihan.
Tak berbeda jauh dengan pilihan untuk menjadi dewasa.
Tolong jelaskan padaku arti dari pendewasaan itu sendiri?
Sepertinya otak ini masih sangat dangkal untuk mendefinisikannya bahkan memahaminya.
Selayaknya kepompong yang berusaha bermetamorfosa, neuron neuron yang tersambung dalam kepala ini berusaha mendeskripsikan huruf-huruf yang terangkai menjadi sebuah kata pendewasaan hingga bermuara pada pemahaman dan bereaksi menjadi sebuah langkah.
Milyaran neuron aktif dikepala ini mengartikan sebagai semangat penumbuhan.
Tumbuh untuk menjadi lebih baik
tumbuh menjadi lebih bijak
tumbuh menjadi lebih cerdas
tumbuh menjadi lebih sholeh
tumbuh menjadi lebih pengertian dengan keadaan yang ada
tumbuh menjadi lebih sabar menghadapi masalah yang hinggap
Tumbuh menjadi lebih perhatian terhadap sekitar
tumbuh untuk lebih Mahabbattullah
tumbuh menjadi sesuatu yang lebih bermutu
Tumbuh untuk lebih bersemangat setelah masa keterpurukkan.
tumbuh menjadi jiwa yang tak mudah menyerah
Maka bermuara pada...
Berlari menuju kedewasaan, menjadi manusia yang lebih matang.
Matang dalam beripikir serta bertindak. Kala sikap menjadi teladan, kala ucap menyentuh hati, kala tatapan penuh pehatian, kala diam mengingat sang Khalik, kala berbincang menasihati, kala senyum bersahaja mengembang sederhana.
Nampaknya aku masih jauh dari harapan-harapan itu. Masih jauh dari harapan bukan berarti aku harus berhenti berharap.
Teruslah berlari tumbuh menjadi dewasa dalam hal berpikir maupun bertindak.^^
Vyka Fadillah yang sedang belajar akan arti pendewasaan.
Minggu, 07 Maret 2010
Diary, Kau Cinta Pertama dan Terakhirku^^
Selamat pagi duniaku yang penuh dengan warna dan warni.
Semoga hari ini kita menjadi lebih baik dari kemarin. Aamiin
Setelah melalui pertimbangan yang cukup lama, akhirnya kemarin tepat dihari Minggu hari ketujuh dibulan Maret aku menduakan diaryku dengan membuat account ini.
"Diary, kau cinta pertama dan terakhirku."
Aku membuat akun ini dengan nama duniavyka, yang ingin melakukan pendewasaan dalam hal menulis.
Teringat setahun lalu awal aku membuat sebuah akun di sebuah site. Aku hanya ingin menulis apa yang aku dengar, lihat dan rasakan. Serta menyalurkan kebiasaan menulis diary dan aku ingin bergabung bersama beberapa sahabat kampusku yang punya akun itu juga. Menyenangkan bermain bersama sahabat seangkatanku didunia maya.
Dikala detik-detik aku baru mempunyai diary berupa blog, tak banyak yang mengenalku. Masih sebatas sahabat kampus. Diluar itu tak ada yang mau membaca tulisanku bahkan meliriknya pun tidak.
Seiring dengan perkembangan jaman, Alhamdulillah aku bertemu banyak sahabat. Dari yang awalnya hanya sekedar koment kemudian kami lebih mengenal satu sama lain hingga terjadiperjumpaan.
Kini ada segelintir warga komplek yang cukup mengenalku dengan baik hanya dengan membaca setiap rangkaian kata yang kutulis hingga mengenalku secara pribadi. Mengenal hanya dibagian dasar dan adapula yang mengenal hingga mendasar.
Diaryku mempunyai pembaca tetap saat ini. Saat aku tidak menulis bahkan ada yang menanyakan kabar tulisanku hari ini. Betapa menyenangkannya bukan? Jika seorang penulis rangkaian katanya dibaca banyak khalayak pasti akan muncul suatu sensasi tersendiri. Memang itu terjadi disegala bidang. Penyanyi akan merasa bangga bila lagunya disenandungkan para fans atau pelukis yang hasil karyanya dibayar mahal.
Karena hal itu, kini niat awal aku menulis kini bergeser. Entah bergeser ke arah mana?
Itu yang membuatku kini harus melakukan pendewasaan dalam menulis. Karena pembaca tulisanku sudah mulai ada dari berbagai kalangan. Terkadang aku mulai berpikir. Apakah tulisanku akan membawa dampak positif ataupun negatif bagi pembaca?
Beban moral itu pun terkadang muncul dan tenggelam. Karena alasan yang tak masuk akal ini maka aku akan mencoba melakukan pendewasaan dalam hal menulis. Bukan berarti harus menulis sesuatu yang selalu serius hingga dahi berkerenyit. Hanya saja akan terjadi pendewasaan. Walaupun aku belum mampu mendeskripsikan kata "pendewasaan" dengan lancar dan secara baik.
Vyka Fadillah di detik-detik keberangkatan ke IBF bersama Aida Hanifa.
8 Maret 2010
Sabtu, 06 Maret 2010
Ternyata aku dan dia saling mengagumi^^
Dear diary
Aku adalah seorang gadis yang bekerja sebagai badut pemakai kostum tokoh kartun strawberry di sebuah taman kota. Taman yang selalu dikunjungi oleh anak-anak, orang dewasa hingga opah dan oma pun ada disana.

Aku tak bekerja disana sendiri, ada tujuah orang kawan-kawanku yang mengenakan kostum kurcaci. Begitu menyenangkan bisa mewarnai taman yang mungil namun indah dengan keceriaan. Bermain dengan anak-anak, berfoto hingga berlarian bersama mereka. Betapa menyenangkannya walupun terkadang lelah dan air keringat membasahiku. Namun keriangan mereka menghapus rasa lelahku.
Aku selalu mengamati siapa-siapa saja yang bermain ditaman. Dan ada seseorang yang membuatku kagum, ia adalah seorang pelukis. Kekagumanku padanya ibarat seorang pecinta film korea The Great Queen Seon Deok yang mengagumi tokoh Bidam. Tapi terserah kalian memaknainya.
Ia seorang pelukis berjaket biru yang lucu, terkadang mencari inspirasi melukisnya dengan menyantap secup es krim baru kemudian melukis. Tak jarang aku menghampirinya untuk melihat hasil lukisannya. Satu hal yang aku kagumi darinya, ternyata ia melukis apa yang dilihat, dengar dan rasakan.
Suatu ketika, pelukis itu memintaku untuk menjadi objek lukisannya. Entah dia dapat inspirasi dari mana hingga berniat melukisku. Aku pun bersiap duduk dibangku taman, dan ia pun siap dengan senjata kanvas dan cat warnanya. Saat akan memulai, ternyata ia memintaku untuk membuka kostum wajah strawberry yang kupakai.
Hmmm

Namun aku menolaknya dengan sigap. Aku tak mungkin membukanya dikeramaian karena merupakan kode etik pekerjaan. Aku hanya membukanya diruang kostum. Pelukis itu tetap memaksa, namun aku pun tetap tak bergeming untuk mepertahankan topeng strawberry. Ketujuh kawan-kawanku pun bergegas membantuku.
Setelah melalui negosiasi yang alot dengan ketujuh kawan-kawanku, akhirnya ia mau melukisku dengan menggunakan kostum. Aku pun duduk manis.
Setelah melihat hasil lukisannya aku semakin mengaguminya***

Suatu hari, aku harus bertugas hingga malam.
Karena hari itu ada festival kembang api ditaman. Aku selalu berkeliling taman, dan hari itu aku melihat pelukis itu berada di diballik pohon yang rindang menyendiri. Memang dia terkadang aneh, ditengah keramaian tapi lebih memilih untuk menyendiri.
“Pasti sedang mencari inspirasi” begitu hatiku berkata.
Aku pun menghampirinya, ternyata ia sedang tertidur. Tak sengaja aku melihat hasil lukisannya yang tercecer.
Tak aku sangka dan duga, ternyata ia melukis sosok seorang wanita dan itu adalah wajahku. Hasil lukisannya mirip sekali dengan wajahku. Ia berhasil mendeskripsikannya dengan baik walaupun ia tak pernah melihatku tanpa kostum strawberry.
***
Hari ini setelah bertugas, aku berjanji menemuinya tanpa kostum strawberry. Itu adalah permintaannya sebelum ia pergi keluar negeri untuk melanjutkan studinya. Aku mau memenuhi permintaannya karena pertemuan itu akan menjadi awal sekaligus akhir pertemuanku dengannya.

Pertemuan tanpa kostum strawberry ditemani tujuh kawan kurcaci pun terjadi saat matahari mulai tenggelam. Aku langsung duduk manis dibangku taman. Sebelum ia melukisku...
“Siapa namamu?”begitu tanyanya padaku.
Maka aku mengambil handphone dan ku ketik namaku.”KIRANA” lalu aku sodorkan supaya ia bisa membacanya.
Ia pun balik bertanya “Sejak kita bertemu mengapa kau tak pernah mengatakan satu kata pun padaku, Apakah kau tak bisa berbicara?”
Aku pun tersenyum, dengan bahasa isyarat aku mencoba menjelaskan “Iya, kau benar. Aku tidak bisa berbicara. Apakah setelah mengtahuinya kau masih mau untuk melukisku?”
"Maafkan aku, tapi seperti apapun dirimu. Saat mengenakan kostum strawberry atau tidak aku tetap mengagumimu. Karena kau selalu membagi keceriaan penuh warna di taman ini dengan keihlasan."
Vyka Fadillah yang hanya bisa merasa namun bukan Mencipta
